Peh Cun atau 端午节: Tradisi Lintas Budaya Tiongkok - Tionghoa
Peh Cun, yang secara internasional dikenal sebagai Festival Duanwu (端午节), merupakan salah satu perayaan tradisional penting dalam budaya Tiongkok dan Tionghoa yang jatuh pada tanggal 5 bulan ke-5 kalender lunar. Festival ini tidak hanya mencerminkan kekayaan warisan budaya Tiongkok dan Tionghoa, tetapi juga telah bertransformasi secara lokal di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia, menjadi praktik budaya yang hidup dalam masyarakat peranakan Tionghoa. Festival ini telah diakui secara global sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO sejak 2009.
Secara historis, Duanwu diyakini berasal dari berbagai tradisi kuno, salah satunya adalah penghormatan terhadap Qu Yuan (屈原), seorang penyair dan negarawan pada masa Dinasti Zhou yang memilih bunuh diri dengan terjun ke Sungai Miluo (汨罗江) setelah menyaksikan kehancuran negaranya. Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat Tionghoa menggelar lomba perahu naga dan melemparkan zongzi (bakcang) ke sungai agar ikan tidak memakan jasad Qu Yuan. Selain narasi heroik Qu Yuan, festival ini juga memiliki aspek simbolik lain seperti pengusiran roh jahat, perlindungan dari penyakit, dan penguatan energi kehidupan pada puncak musim panas.
Dalam konteks lokal Indonesia, Peh Cun berkembang dalam kerangka akulturasi budaya. Di daerah Tangerang, khususnya di sekitar Sungai Cisadane, Peh Cun dirayakan dengan meriah oleh masyarakat peranakan. Salah satu keunikan dalam perayaan ini adalah kepercayaan tentang "telur berdiri", di mana telur diyakini dapat berdiri tegak secara alami saat tengah hari di Hari Peh Cun. Fenomena ini tidak hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga diyakini sebagai pertanda keberuntungan dan berkah langit bagi yang berhasil melakukannya. Pada saat yang sama, masyarakat juga melakukan ritual seperti sembahyang Twan Yang dan memetik tanaman obat, berdasarkan kepercayaan bahwa khasiatnya lebih tinggi pada saat itu.
Tradisi lomba perahu naga di Cisadane memiliki sejarah panjang yang tercatat sejak abad ke-19, dengan kontribusi perahu dari tokoh lokal seperti Kapitan Oey Khe Tay untuk Kelenteng Boen Tek Bio. Meski perahu sempat patah dalam lomba tahun 1911, semangat kolektif dan kepercayaan terhadap nilai budaya membuat mereka tetap melanjutkan perlombaan hingga menang—sebuah kisah yang masih dikenang dan dilestarikan hingga kini.
Di daerah lain seperti Pontianak, festival ini dikenal dengan "pesta air" di Sungai Kapuas. Masyarakat Hakka dan Tiochiu terlibat dalam prosesi mandi bersama dan saling melempar air sebagai simbol penyucian diri. Tradisi ini juga melibatkan pembagian kicang (bakcang kecil tanpa isi) secara gratis dan hiburan berupa semprotan air dari mobil pemadam kebakaran. Sementara itu, di Bangka Belitung, masyarakat melakukan ritual khusus seperti mendirikan telur, mandi tengah hari dengan air sumur yang dipercaya memiliki khasiat penyembuhan, serta melempar bakcang ke laut untuk menghormati leluhur mereka, Khut Goan.
Festival Peh Cun dengan demikian menjadi simbol penting dari keberlanjutan budaya lintas etnis dan waktu, mengandung nilai-nilai filosofis, ekologis, dan spiritual yang menyatu dalam praktik sosial. Ia memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi kuno dari Tiongkok dapat bertransformasi dan berakar kuat dalam kehidupan budaya masyarakat Indonesia, khususnya komunitas peranakan Tionghoa. Lebih dari sekadar perayaan, Peh Cun adalah bentuk konkret dari warisan budaya yang adaptif, edukatif, dan membangun jembatan identitas dalam keberagaman.