Hujan di Surabaya, 雨 dalam Bahasa Mandarin, dan Maknanya Menjelang 春节
Surabaya dikenal luas sebagai kota dengan tingkat kepanasannya. Namun rasanya dimulai dari akhir 2024 hingga sepanjang tahun 2025, ritme alam terasa bergeser. Hujan datang lebih sering, durasinya lebih panjang, dan kehadirannya seolah menjadi bagian keseharian. Musim kemarau tetap muncul, tetapi relatif singkat dan intens, panasnya tetap bisa menusuk hingga menembus helm SNI para pengendara sepeda motor, 太闷了!: ongkep dan melelahkan. Walaupun juga setelah itu, hujan turun kembali, menurunkan suhu, membersihkan udara, dan menghadirkan jeda. Sebuah keadaan yang patut disyukuri.
Pengalaman kolektif semacam ini menjadi pintu masuk untuk membaca hujan bukan hanya sebagai fenomena meteorologis, melainkan sebagai pengalaman kultural, terutama ketika dipahami melalui bahasa Mandarin dan dikaitkan dengan perayaan Imlek / 春节 (Chūnjié).
雨 (Yǔ): Hujan sebagai Makna
Dalam bahasa Mandarin, karakter 雨 (yǔ) tidak berhenti pada arti “hujan”. Ia berfungsi sebagai radikal pembentuk banyak karakter yang berkaitan dengan alam, perubahan, dan siklus kehidupan. Hujan dipahami sebagai elemen yang menghidupkan, menyeimbangkan, dan memberi harapan.
Beberapa ungkapan yang sering digunakan antara lain:
- 风调雨顺 (fēng tiáo yǔ shùn) – angin dan hujan yang berjalan selaras, simbol kehidupan yang harmonis dan makmur.
- 及时雨 (jí shí yǔ) – hujan yang turun tepat waktu, kiasan bagi pertolongan atau kelegaan yang hadir saat dibutuhkan.
Dalam konteks Surabaya, hujan yang datang setelah panas panjang terasa dekat dengan makna 及时雨—bukan sekadar mendinginkan tubuh, tetapi juga menenangkan pikiran.
Hujan dan 春节: Awal yang Membawa Harapan
Dalam tradisi dan kepercayaan budaya Tiongkok dan juga Tionghoa, hujan yang turun menjelang atau saat 春节 kerap ditafsirkan sebagai pertanda baik. Air melambangkan rezeki, pertumbuhan, dan awal baru. Ungkapan seperti:
瑞雨兆丰年
(hujan pembawa berkah menandai tahun yang makmur)
Menunjukkan betapa erat hubungan antara alam dan harapan manusia. Bagi masyarakat agraris, hujan di awal tahun berarti potensi panen yang baik. Dalam konteks perkotaan masa kini, makna itu dapat dimaknai ulang sebagai harapan akan keseimbangan hidup, kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan di tengah perubahan iklim yang kian terasa.
Ketika hujan, panas, dan rasa pengap menjadi bagian dari pengalaman harian, bahasa tidak lagi berdiri sebagai konsep abstrak. Kosakata seperti 雨、热、冷、闷 hadir dalam konteks nyata. Inilah titik temu antara pengalaman lokal Surabaya dan pembelajaran bahasa Mandarin.
Hujan yang rasanya lebih sering turun di Surabaya sepanjang 2025 menghadirkan refleksi yang menarik. Ia bukan sekadar perubahan cuaca, melainkan cerita tentang adaptasi, keseimbangan, dan harapan. Melalui karakter 雨, bahasa Mandarin menawarkan cara halus untuk memahami pengalaman tersebut. Menjelang 春节 2026, hujan dapat disambut sebagai tanda awal yang baik, sebuah pengingat bahwa setiap tahun baru selalu membawa peluang untuk hidup yang lebih sejuk, selaras, dan bermakna.