Makna Panggilan “Ayah”: Sebuah Perbandingan Bahasa Indonesia dan Mandarin
Hari Ayah selalu menjadi momen yang menghangatkan hati. Di Indonesia, kita tumbuh dengan beragam cara menyapa sosok ayah: Ayah, Bapak, hingga Papa. Menariknya, ketiga panggilan ini tidak hanya berbeda dalam bunyi, tetapi sering kali membawa nuansa sosial yang berbeda.
Dalam kehidupan sehari-hari, kata “Bapak” terasa lebih formal dan kerap digunakan sebagai sapaan hormat di ruang publik. “Ayah” memberi sentuhan kedekatan keluarga dan emosional, sementara “Papa” cenderung dianggap modern, bahkan di sejumlah daerah, tanpa disadari muncul semacam “aturan tidak tertulis” bahwa panggilan papa identik dengan kelas sosial menengah ke atas. Pada keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana, panggilan ini jarang muncul, seolah-olah bahasa turut mencerminkan konstruksi sosial masyarakat.
Menariknya, fenomena serupa juga dapat kita temukan dalam bahasa Mandarin. Saat ini, anak-anak di Tiongkok lazim memanggil ayah dengan sebutan 爸爸 (bàba), sapaan hangat dan universal di era Tiongkok modern. Namun jika kita menengok sejarah bahasa Mandarin, dulu masyarakat lebih sering menggunakan kata 爹 (diē), sebuah istilah tradisional yang kini mulai jarang dipakai. Hanzi 爹 sendiri menarik karena bentuknya mirip dengan 爷 (yé) dalam kata 爷爷 yang berarti “kakek”.
Melalui perbandingan kecil ini, kita melihat bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cermin nilai sosial, perubahan budaya, dan cara masyarakat memaknai hubungan keluarga. Pada momen Hari Ayah ini, apa pun kata yang kita pilih, Ayah, Bapak, Papa, atau 爸爸, bahkan 爹 semuanya bermuara pada satu makna yang sama: penghormatan dan kasih sayang kepada sosok yang telah membimbing kita dengan cara mereka masing-masing.