Fungsi Validator dalam Penelitian Bahasa Asing
Dalam penelitian bahasa asing, keperluan menelaah karya sastra seperti novel, cerpen, puisi, atau lirik lagu, proses penerjemahan kerap kali menjadi langkah awal yang tak terhindarkan. Data terjemahan berfungsi sebagai alat bantu bagi peneliti untuk memahami lapisan makna dalam bahasa sumber secara lebih mendalam. Walau demikian, hasil terjemahan tidak menjadi objek utama penelitian, sebab analisis ilmiah tetap harus berpijak pada bahasa asli yang menjadi sumber data utama. Hal ini karena setiap bahasa memiliki struktur budaya, sistem nilai, dan pola pikir yang khas, yang tidak bisa sepenuhnya dialihbahasakan tanpa risiko kehilangan konteks.
Dengan demikian, penerjemahan hanya menjadi jembatan epistemologis antara bahasa sumber dan peneliti. Namun agar jembatan tersebut kuat dan tidak menyesatkan arah penelitian, peneliti perlu memastikan keabsahan (validitas) data melalui mekanisme tertentu, salah satunya adalah dengan melibatkan validator.
1. Fungsi Validator dalam Konteks Penelitian Bahasa Asing
Validator dalam penelitian bahasa asing berperan untuk memastikan keakuratan linguistik dari hasil penerjemahan, bukan untuk memutuskan atau menilai isi makna yang dikandung oleh teks tersebut. Misalnya, jika peneliti meneliti makna maskulinitas dalam puisi berbahasa asing, validator hanya memeriksa apakah terjemahan peneliti dari bahasa sumber ke bahasa sasaran sudah benar padanannya dan tidak menyimpang dari makna aslinya.
Tugas validator berhenti sampai pada tahap kesetaraan makna (semantic equivalence) antara teks sumber dan teks terjemahan. Validator tidak memiliki kewenangan untuk memutuskan apakah kalimat itu benar mengandung nilai-nilai maskulinitas atau tidak, karena hal itu merupakan ranah interpretatif yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab peneliti dan pembimbingnya. Jika validator melangkah sejauh itu, maka ia telah melampaui batas fungsionalnya dan mengaburkan tanggung jawab ilmiah.
2. Validator dan Rater: Penjamin Akurasi dan Reliabilitas
Dalam penelitian bahasa, istilah yang lebih tepat daripada validator adalah rater, yaitu orang lain yang membantu peneliti memeriksa keakuratan makna atau hasil penerjemahan. Melibatkan beberapa rater akan membantu peneliti mengurangi bias subjektif. Hasil penilaian para rater ini kemudian dapat diuji melalui uji reliabilitas antarpenilai (interrater reliability), yaitu pengukuran tingkat kesepakatan di antara para penilai terhadap data yang sama.
Metode ini penting dalam penelitian kebahasaan dan sastra karena interpretasi makna bersifat fleksibel; melibatkan lebih dari satu rater membantu menjaga keseimbangan antara subjektivitas peneliti dan objektivitas akademik. Dengan begitu, penelitian tidak hanya bergantung pada persepsi individu, melainkan memperlihatkan konsistensi makna lintas penafsir.
3. Analogi Ilmiah: Validator dalam Penelitian Biologi
Demi membantu memahami batas peran validator, kita dapat menggunakan analogi penelitian biologi. Misalnya, seorang peneliti menemukan virus berbentuk segitiga dan menyimpulkan bahwa virus itu menyebabkan penyakit pusing. Ia menyerahkan hasil temuannya kepada validator. Jika validator mengatakan, "Benar, virus segitiga ini penyebab pusing," maka validator telah melampaui perannya.
Fungsi validator seharusnya hanya memastikan bahwa virus segitiga itu memang bernama virus A sesuai data ilmiah yang valid. Adapun penentuan bahwa virus A menyebabkan penyakit tertentu merupakan tanggung jawab peneliti dan pembimbing berdasarkan analisis dan eksperimen. Bila validator ikut menentukan hasil akhir, maka tanggung jawab ilmiah menjadi tumpang tindih dan menyalahi prinsip penelitian.
4. Validator dalam Penelitian Pendidikan
Fungsi validator dalam penelitian pendidikan memiliki karakter lain lagi. Dalam penelitian pengembangan bahan ajar atau media pembelajaran (Research and Development), keberadaan validator memang sangat penting.
Misalnya, seorang peneliti merancang bahan ajar interaktif. Sebelum diujicobakan, produk tersebut harus divalidasi oleh ahli yang kompeten, seperti ahli bahan ajar, ahli bahasa, atau ahli teknologi pendidikan. Dalam konteks ini, validator berfungsi menilai kelayakan produk berdasarkan kriteria yang objektif, antara lain:
- keterbacaan teks (font, ukuran huruf, dan tata letak);
- kejelasan visual dan harmoni warna;
- kesesuaian isi dengan kurikulum;
- estetika dan ketiadaan unsur SARA.
Validator memberikan penilaian kualitatif dan kuantitatif dengan instrumen atau rubrik yang telah disusun sebelumnya. Hasil validasi ini menunjukkan bahwa produk tersebut layak atau belum layak untuk diuji lebih lanjut, bukan menentukan kebenaran isi ilmiahnya. Dengan demikian, dalam konteks penelitian pendidikan, validator berfungsi secara normatif dan teknis hanya untuk memastikan kesesuaian produk dengan standar akademik dan pedagogis. Apakah bahan ajar tersebut akan menghasilkan dampak yang baik saat diterapkan, itu adalah tugas peneliti dan pembimbing itu sendiri.
- Akademisi, yang meninjau data dari sisi teoretis dan metodologis;
- Praktisi atau sastrawan, yang memahami konteks kreatif dan pengalaman estetik karya sastra;
- Peneliti sastra atau sejawat ilmiah, yang memberikan tinjauan kritis terhadap argumentasi peneliti.