Di Balik Banyaknya Libur dan Budaya 补课: Refleksi untuk Mahasiswa Pembelajar Bahasa Mandarin
Ketika melihat kalender nasional Indonesia tahun 2025, ada fenomena yang menarik: dari bulan Januari hingga Mei, kita disuguhi banyak tanggal merah. Ada perayaan Tahun Baru, Isra Mi’raj, Idul Fitri, Hari Buruh, Waisak, Kenaikan Isa Almasih, hingga Hari Raya Idul Adha. Bahkan, cuti bersama kerap menambah panjangnya waktu libur.
Namun, mulai bulan Juni hingga Desember, jumlah hari libur nasional mulai berkurang drastis. Hanya tersisa beberapa perayaan seperti Maulid Nabi, Natal, atau cuti bersama akhir tahun. Fenomena ini sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia: padat di awal, lengang di akhir.
Bagaimana dengan di Tiongkok?
Berbeda dengan Indonesia, di Tiongkok sistem hari libur nasional diatur cukup ketat oleh pemerintah pusat. Ada beberapa golden week atau minggu libur panjang yang biasanya jatuh pada:
- Tahun Baru Imlek (春节 Chūn Jié)
- Hari Buruh (劳动节 Láo Dòng Jié)
- Hari Nasional (国庆节 Guóqìng Jié)
Selain itu, ada pula beberapa hari libur tradisional seperti:
- Festival Perahu Naga (端午节 Duānwǔ Jié)
- Festival Pertengahan Musim Gugur (中秋节 Zhōngqiū Jié)
- Hari Pembersihan Makam (清明节 Qīngmíng Jié)
Namun, ada satu hal yang cukup unik dalam budaya libur di Tiongkok, yaitu sistem 补课 (bǔkè) — kelas pengganti.
补课: Kelas Pengganti di Tiongkok
Apa itu 补课? Secara harfiah berarti "mengisi kembali pelajaran". Dalam praktiknya, bǔkè diadakan untuk menyeimbangkan jumlah hari belajar yang hilang akibat libur resmi.
Sebagai contoh:
Jika libur Tahun Baru Imlek berlangsung selama 7 hari, pemerintah akan menetapkan beberapa akhir pekan sebelum atau sesudahnya sebagai hari masuk sekolah atau kerja tambahan. Maka, siswa dan guru tetap menjalani total jam belajar yang sama, meski libur panjang tetap diberikan.
Bagi sebagian orang luar, sistem bǔkè terasa berat. Tapi dalam budaya Tiongkok, ini dipandang sebagai bagian dari etos kerja keras (勤奋 qínfèn) dan tanggung jawab (责任 zérèn). Masyarakat Tiongkok memandang waktu belajar sebagai investasi jangka panjang yang tidak boleh berkurang karena adanya hari libur.
Bagi kita yang sedang belajar bahasa Mandarin, memahami tradisi 补课 bukan sekadar mengenal kosakata baru, tetapi juga memahami bagaimana budaya kerja keras (勤奋 qínfèn) dan tanggung jawab (责任 zérèn) tertanam kuat dalam sistem pendidikan Tiongkok. Hal ini menjadi bagian penting dalam pembentukan cross-cultural competence kita sebagai calon pengajar, penerjemah, atau ahli bahasa Mandarin di masa depan.
oleh Yogi Bagus Adhimas