Antara Bulu dan Rotan: Cerita tentang 毽子dan Sepak Takraw
Jika anda pernah menyaksikan, bisa di media sosial atau mungkin secara langsung seseorang menendang benda kecil berbulu ke udara tanpa membiarkannya jatuh ke tanah, maka besar kemungkinan anda sedang melihat permainan 毽子 (jiànzi). Kemudian di masa yang lain, jika anda melihat pertandingan penuh lompatan dan tendangan akrobatik dengan bola rotan yang dilontarkan melewati jaring, maka itulah yang dikenal sebagai sepak takraw, atau dalam bahasa Mandarin disebut 藤球 (téngqiú). Keduanya punya satu kesamaan yang mencolok—sama-sama menggunakan kaki (脚 jiǎo) sebagai alat utama permainan.
Mengenal毽子:Warisan Tradisi yang Ringan tapi Penuh Teknik
毽子, dikenal juga dengan sebutan kunonya sebagai 拋足戏具 (Pāozú Xìjù), adalah permainan tradisional Tiongkok yang telah diwariskan sejak ribuan tahun silam. Permainan ini menggunakan bulu (羽毛 yǔmáo) yang ditempelkan pada dasar kecil, dan ditendang secara terus-menerus oleh pemain menggunakan berbagai bagian kaki. Bahkan, dalam literatur klasik, permainan ini disebut sebagai “燕子 (yànzi)” karena gerakan bulunya yang menyerupai burung walet di udara. Ada pula puisi klasik yang menggambarkan keindahannya: “踢碎香风抛玉燕”, yang kira-kira bermakna "menendang harum angin dan melempar walet giok".
Bermain毽子 tidak sekadar asal tendang. Ada delapan teknik dasar dalam permainan ini, mulai dari 盘 (pán)—menendang dengan bagian dalam kaki, 绷 (běng)—menendang dengan punggung kaki, hingga 勾 (gōu)—tendangan ke belakang dengan kaki menghadap ke belakang. Setiap gerakan memiliki nama, logika, dan keindahan tersendiri. Bahkan, teknik seperti 高腿踏毽 (gāotuǐ tàjiàn)—yang menendang dengan kaki lurus ke depan dari atas—terinspirasi dari gerakan藤球 dan menunjukkan bagaimana lintas budaya bisa saling menginspirasi.
Di era modern,毽子 terus berkembang. Pada tahun 1963, pemerintah Tiongkok menetapkan毽子 sebagai bagian dari kurikulum pendidikan jasmani nasional. Sejak tahun 2000, bahkan ada 世界足毽锦标赛 (Shìjiè Zújiàn Jǐnbiāosài) atau Kejuaraan Dunia Foot Shuttlecock yang digelar dua tahun sekali. Olahraga ini telah melintasi batas negara, namun tetap mempertahankan jiwa tradisionalnya: bermain dengan keindahan dan kendali tubuh.
Sepak Takraw di Indonesia: Kekuatan dan Lompatan dari nama lain Sepak Raga Tradisional
Sementara 毽子 berkembang dari budaya Tiongkok, Indonesia juga memiliki tradisi permainan yang tidak kalah menarik: sepak takraw, yang dalam bahasa Mandarin dikenal sebagai 藤球 (téngqiú). Permainan ini sudah dikenal luas di berbagai daerah Indonesia sejak dulu, dengan nama lokal Sepak Raga. Di Sulawesi Selatan, permainan ini disebut Raga, dan dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran. Para pemain, yang disebut Pa'Raga, menendang bola rotan (藤制球 téng zhì qiú) dari satu ke yang lain dengan penuh kelincahan dan terkadang menyelipkan gerakan artistik, seperti meletakkan bola di kepala sambil berdiri tegap mengenakan tengkolok Bugis.
Sepak takraw versi kompetitif mulai berkembang pada sekitar tahun 1940-an, ketika permainan ini mulai menggunakan jaring (球网 qiúwǎng) dan menerapkan sistem angka seperti permainan bola voli. Namun, tidak seperti voli yang melibatkan tangan,藤球 mengandalkan kekuatan kaki, bahu, dan kepala untuk mengontrol dan memukul bola. Di Indonesia, sepak takraw menjadi salah satu cabang olahraga resmi yang sering dipertandingkan di tingkat nasional maupun internasional, dan sudah memiliki federasi serta pembinaan atlet yang serius.
Gerakan dalam sepak takraw sangat eksplosif. Pemain akan melompat tinggi untuk melakukan smash dengan kakinya dalam gerakan yang dikenal sebagai 踢杀 (tī shā) atau smash tendangan. Kekuatan lompat, timing, dan kerja sama tim menjadi aspek utama dalam sepak takraw, menjadikannya olahraga yang penuh adrenalin dan kompetitif.
Dua Budaya, Satu Gerakan: Kaki sebagai Media Ekspresi
Meskipun 毽子 dan sepak takraw memiliki bentuk permainan dan tujuan yang berbeda—satu lebih pada keseimbangan dan estetika, yang lain pada kompetisi dan kekuatan—keduanya sama-sama menempatkan 脚 (jiǎo) sebagai pusat gerakan. Mereka mengajarkan bagaimana kaki bukan sekadar alat gerak, tetapi juga instrumen seni, kekuatan, dan budaya.
Bagi mahasiswa yang mempelajari bahasa Mandarin, mengenal 毽子 bukan hanya menambah kosakata seperti 踢 (tī - menendang), 运动 (yùndòng - olahraga), atau 比赛 (bǐsài - pertandingan), tapi juga memberikan pemahaman tentang bagaimana budaya Tiongkok memandang tubuh, harmoni, dan keterampilan. Sedangkan sepak takraw, sebagai bagian dari budaya Indonesia, mengingatkan kita bahwa ekspresi tubuh dalam olahraga bisa menyatu dengan identitas lokal dan berkembang menjadi simbol nasionalisme.
Budaya Bergerak dalam Setiap Tendangan
Melalui 毽子 dan sepak takraw, kita diajak menyaksikan bagaimana permainan sederhana bisa menjelma menjadi representasi budaya yang mendalam. Tiongkok dan Indonesia, meski berbeda dalam sejarah dan tradisi, memiliki kesamaan dalam cara mereka mengekspresikan gerak melalui kaki—sebuah bagian tubuh yang sering diabaikan, tapi justru menjadi pusat dari banyak bentuk seni dan olahraga.
Jadi, sebagai mahasiswa bahasa Mandarin, jangan hanya belajar melalui buku. Cobalah untuk tī jiànzi (踢毽子) atau menonton pertandingan藤球, dan rasakan sendiri bagaimana tubuh, budaya, dan bahasa bisa menyatu dalam satu gerakan menendang.
你想试试看踢毽子吗?(Nǐ xiǎng shìshì kàn tī jiànzi ma?)Apakah kamu ingin mencoba 毽子 juga?
oleh Yogi Bagus Adhimas