Penelitian Bahasa dan Budaya untuk Dunia yang Berkelanjutan
Kontribusi Riset Ibu Cicik Arista, S.Pd., MTCSOL Laoshi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Sebagai salah satu dosen aktif di Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Mandarin, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Ibu Cicik Arista, S.Pd., MTCSOL, terus mengembangkan penelitian yang menjembatani bidang linguistik, pendidikan, dan budaya Tiongkok dengan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan. Melalui riset-risetnya, beliau menunjukkan bahwa pengajaran bahasa dapat menjadi sarana untuk membangun kesetaraan, kualitas pendidikan, dan kolaborasi lintas budaya sebagaimana diamanatkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.
1. Bahasa sebagai Wahana Kesetaraan dan Pendidikan Berkualitas
Judul: Analysis of Language Errors at the Level of Syntax in Writing Free Discourse Text
Keterkaitan SDGs: SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) & SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan)
Dalam penelitian ini, Ibu Cicik menelaah fenomena kesalahan sintaksis dalam tulisan mahasiswa pemelajar bahasa Mandarin tingkat awal di UNESA. Berdasarkan model analisis kesalahan Corder, penelitian ini menyoroti pengaruh logika bahasa ibu terhadap logika bahasa asing yang sedang dipelajari.
Temuan tersebut bukan sekadar catatan linguistik, tetapi juga refleksi atas tantangan pembelajaran lintas bahasa yang menuntut pendekatan pedagogis lebih inklusif dan adaptif. Dengan demikian, penelitian ini mendukung SDG 4, yaitu peningkatan kualitas pendidikan, serta SDG 10, yaitu pengurangan kesenjangan dalam pemerataan kesempatan belajar bahasa asing di perguruan tinggi Indonesia.
2. Literasi Bahasa dan Keberlanjutan Informasi Global
Judul: Elements of Cohesion and Coherence in Chinese Narrative Discourse Texts in Newspapers 国际日报 Guoji Ribao
Keterkaitan SDGs: SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) & SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh)
Melalui penelitian ini, Ibu Cicik menelusuri bagaimana unsur kohesi dan koherensi dalam teks berita berbahasa Mandarin, khususnya dalam surat kabar Guoji Ribao, membentuk struktur wacana yang logis dan bermakna. Analisis ini memperlihatkan bahwa penggunaan bahasa yang baik berperan penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap informasi.
Riset tersebut sejalan dengan SDG 9, karena memperkuat literasi sebagai bagian dari infrastruktur pengetahuan dan komunikasi yang berintegritas, serta SDG 16, karena turut mendorong budaya informasi yang jujur, transparan, dan mendukung lembaga yang tangguh di era digital.
3. Integrasi Seni dan Bahasa untuk Meningkatkan Motivasi dan Daya Saing Mahasiswa
Judul: The Importance of Providing Chinese Cultural Arts Materials to Expand Student Learning Motivation in Department of Chinese Language and Literature at Unesa
Keterkaitan SDGs: SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) & SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi)
Dalam penelitian ini, Ibu Cicik menggali potensi seni budaya Tiongkok, seperti seni gunting kertas (剪纸), simpul Tiongkok (中国结), dan lagu-lagu Mandarin, sebagai media pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengintegrasian budaya ke dalam pembelajaran bahasa mampu meningkatkan motivasi, kreativitas, dan kepekaan lintas budaya mahasiswa.
Upaya ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar, tetapi juga mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kompetensi budaya dan komunikasi yang dibutuhkan di dunia kerja global. Dengan demikian, riset ini berkontribusi langsung pada SDG 4 dan SDG 8, karena membentuk lulusan yang kompeten, berbudaya, dan siap bersaing di pasar tenaga kerja internasional.
Bahasa dan Budaya: Fondasi untuk Dunia yang Inklusif
Melalui ketiga penelitian tersebut, Ibu Cicik Arista, S.Pd., MTCSOL menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya sistem tanda, melainkan jembatan antarperadaban dan kunci pembangunan manusia yang berkelanjutan. Riset-riset beliau tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan linguistik dan pendidikan, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam mewujudkan dunia yang lebih adil, setara, dan berdaya saing melalui jalur pendidikan tinggi.
Dengan menghubungkan riset akademik dan nilai-nilai global SDGs, beliau menegaskan satu pesan penting: pembangunan berkelanjutan dimulai dari kesadaran berbahasa yang cerdas, berbudaya, dan berempati.