Benchmarking Prodi Mandarin FIB Unpad ke Prodi Mandarin FBS Unesa
Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (FBS Unesa) menerima kunjungan resmi dari Program Studi Bahasa dan Budaya Tiongkok Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (FIB Unpad) dalam rangka kegiatan benchmarking, yang dilaksanakan pada Jumat, 26 September 2025, di ruang rapat Gedung T14.
Delegasi Unpad dipimpin oleh Koordinator Program Studi Bahasa dan Budaya Tiongkok, Ibu Dr. Ekaning Krisnawati, M.Hum., didampingi Bapak M. Annas Zaenulloh, S.S., M.TCSOL (安纳士老师), dan Bapak Gilang Januarsyah, M.Hum. Dari pihak Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin FBS Unesa, hadir Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin, Dr. Miftachul Amri, S.Pd., M.Pd., M.Ed., Ph.D., serta para dosen prodi lainnya, termasuk sebagai pemateri utama kegiatan benchmarking dari Prodi Mandarin FBS Unesa ada Ibu Tiffany Qorie, S.S., M.TCSOL, Bapak Stephen Aji Wardana, B.Ed., M.TCSOL., dan Ibu Rosita Nugraheni, S.Pd., M.A..
Dalam sambutannya, Bapak Didik Nurhadi, Ph.D., selaku Wakil Dekan Bidang I FBS Unesa, menyampaikan apresiasi atas kunjungan ini dan menekankan pentingnya sinergi antarperguruan tinggi dalam memperkuat mutu pendidikan bahasa Mandarin di Indonesia.
Pada sesi utama, Stephen Aji Wardana, B.Ed., M.TCSOL memaparkan kurikulum Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin Unesa yang berbasis Outcome-Based Education (OBE) dengan fokus pada pembelajaran berbasis proyek. Ia menjelaskan sejumlah keunggulan program, di antaranya:
- Keberadaan native speaker dari Tiongkok sebagai dosen pengajar.
- Beasiswa satu tahun ke Tiongkok dengan konversi nilai sehingga tidak menghambat studi mahasiswa di Unesa.
- Program double degree (kuliah 2 tahun di Unesa dan 2 tahun di Tiongkok) yang meningkatkan daya saing lulusan.
- Kerja sama dengan perusahaan multinasional, memungkinkan mahasiswa melakukan magang di dunia usaha dan industri.
Benchmarking ini juga membahas hasil tracer study alumni dan masukan dari para pemangku kepentingan. Berdasarkan temuan tersebut, kebutuhan penerjemah industri menjadi salah satu prioritas. Bapak Yogi Bagus Adhimas, S.Pd., M.A., memaparkan program penguatan penerjemahan industri melalui buku ajar yang dikembangkan dari kosakata Mandarin yang digunakan di sektor industri, yang dikumpulkan melalui wawancara dengan alumni yang telah bekerja.
Kegiatan benchmarking ini menjadi sangat penting bagi Unpad yang saat ini tengah merencanakan pembukaan Prodi Sastra Mandarin. Diskusi berlangsung dinamis dan profesional, dengan pertanyaan seputar strategi pengembangan kurikulum, pengelolaan dosen, serta peluang kerja sama internasional.
Sebagai penutup, acara ini diakhiri dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Unesa dan Unpad sebagai landasan kerja sama dalam pengembangan prodi, riset, dan pertukaran akademik.
Melalui benchmarking ini, kedua universitas berkomitmen untuk memperkuat pendidikan dan penelitian di bidang bahasa serta sastra Mandarin, sekaligus menjawab tantangan global dalam pengajaran bahasa dan budaya Tiongkok di Indonesia.