Badai Pasti Berlalu: Di Antara Yin dan Yang Kehidupan
Badai pasti berlalu, sebuah lirik sederhana yang menenangkan banyak jiwa di Indonesia. Namun, semakin bijak seseorang, semakin disadari bahwa badai tidak hanya datang dan pergi; kadang ia meninggalkan reruntuhan yang mengajarkan manusia tentang makna “bertahan”. Di era di mana kesadaran mental menjadi bahan perbincangan dan keputusasaan menjadi berita sehari-hari, kalimat itu tetap bergema sebagai doa kecil yang menggantung di langit kesadaran.
Namun hidup, sebagaimana hukum alam semesta, tak pernah berdiri di satu sisi saja. Ia tunduk pada keseimbangan kuno: 阴阳 (Yīn Yáng), dua kutub yang saling meniadakan sekaligus saling menghidupi. Dalam terang ada bayangan, dalam tawa ada luka, dalam doa ada kegelisahan. Mungkin sebab itu pula, harapan yang lahir di tengah kebahagiaan bisa berubah getir ketika dihadapkan pada kenyataan. Karena sebagaimana Yin menuntut Yang, setiap keindahan selalu membawa benih kehancurannya sendiri.
Paradoks itu juga nyata dalam hal yang paling mendasar: oksigen. Unsur yang memberi manusia kehidupan, yang mengalir dalam setiap tarikan napas, namun di saat yang sama, oksigen pula yang perlahan mengikis sel, menua organ, dan mengantar tubuh kembali ke asal. Di sinilah rahasia alam menyingkap dirinya: sesuatu bisa menjadi penyelamat sekaligus penghancur. Kebaikan dan keburukan, terang dan gelap, kehidupan dan kematian, semuanya berputar dalam satu roda yang tak mengenal henti.
Maka ketika mantra “badai pasti berlalu”, kini tak lagi mengartikannya sekadar penghiburan. Badai memang berlalu, tapi bukan berarti lenyap selamanya, melainkan karena menjadi bagian dari keseimbangan itu sendiri. Sebab bunyi negasinya bisa menjadi: “langit yang cerah pasti berlalu”, setelah hujan akan datang pelangi, di ketenangan malam ada doa sepertiga malam yang powerfull, di pagi perkotaan yang hiruk pikuk ada kafein halus yang tidak terburu, begitu seterusnya. Di antara perputaran itulah manusia belajar memaknai dua titik kehidupan: titik hikmah dan titik harapan.
Titik hikmah akan mengajarkan untuk tidak menolak gelap, karena dari situlah cahaya berpendar.
Titik harapan membuat langkah lanjutan.
Dan mungkin, di sanalah kesejatian Yin-Yang bekerja: bukan untuk meniadakan, melainkan untuk menyeimbangkan, agar manusia, dalam segala keterbatasannya, tetap belajar mencintai paradoks yang bernama pasrah.