Alam Bernafas Saat Manusia Menurunkan Kecepatan
Siapa sangka, di tengah sunyinya kota saat pandemi COVID-19, bumi ternyata sedang bernapas lega? Langit menjadi lebih biru, udara lebih bersih, dan suara burung kembali terdengar di pagi hari. Ketika manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk industrialisasi, alam justru mengambil kesempatan untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Penelitian berjudul “Ecocritical Perspectives on the Healing of Nature: A Study of COVID-19 Poetry” yang ditulis oleh Shaimaa Mohamed Hassanin, Marwa Aly Eleleidy, dan Eman Mohammed Al Bayomy, serta diterbitkan dalam World Journal of English Language (23 Juni 2025), menyoroti hal menarik ini. Para peneliti menemukan bahwa puisi-puisi yang lahir di masa pandemi bukan hanya ekspresi kesedihan atau kesepian, melainkan juga bentuk refleksi tentang bagaimana alam pulih saat manusia melambat.
Dalam puisi-puisi itu, jalanan yang sepi digambarkan sebagai ruang bagi burung untuk terbang bebas, udara bersih diibaratkan sebagai napas baru bagi bumi, dan langit yang jernih menjadi simbol harapan. Melalui pendekatan ekokritik, cara membaca sastra dengan kacamata lingkungan. Penelitian ini menunjukkan bahwa karya sastra dapat menjadi cermin hubungan manusia dengan alam: rapuh, tetapi masih bisa disembuhkan.
Pesan yang tersirat begitu kuat: alam tidak membutuhkan manusia untuk hidup, justru manusialah yang butuh alam untuk bertahan. Ketika aktivitas industri berhenti sementara, bumi memperlihatkan kemampuannya untuk memperbaiki diri. Dari situ, muncul harapan baru bahwa kehidupan modern masih bisa berdampingan dengan keberlanjutan lingkungan, asal manusia mau memperlambat langkahnya.
Bagi dunia pendidikan, terutama bagi mahasiswa Bahasa Mandarin, pesan ini sejalan dengan falsafah Tionghoa kuno 天人合一 (tiān rén hé yī)—manusia dan alam adalah satu kesatuan. Belajar bahasa dan sastra bukan hanya soal kata, tetapi juga memahami nilai harmoni yang diajarkan alam.
Kini, ketika jalanan kembali padat dan manusia kembali sibuk mengejar waktu, mungkin ada baiknya kita mengingat momen ketika bumi tersenyum diam-diam di balik jendela rumah kita. Pandemi telah berlalu, tapi pelajarannya tetap abadi: kadang, untuk menyembuhkan dunia, kita hanya perlu berhenti sejenak.