Semangat Kartini, Harmoni Budaya, dan Inspirasi Perempuan Hebat dari Nusantara hingga Tiongkok
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, keluarga besar Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Mandarin Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya turut menghadirkan nuansa kebangsaan dan penghormatan kepada perjuangan perempuan Indonesia. Pada momen istimewa ini, para 老师们 (laoshi/dosen) perempuan tampil anggun mengenakan kebaya, sementara dosen laki-laki mengenakan batik sebagai simbol kecintaan terhadap budaya bangsa.
Peringatan ini bukan sekadar mengenakan busana tradisional, tetapi juga menjadi pengingat bahwa semangat Raden Ajeng Kartini terus hidup dalam dunia pendidikan. Kartini telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk memperoleh hak belajar, berkarya, dan berkontribusi bagi masyarakat. Nilai perjuangannya selaras dengan semangat pendidikan modern: memberi kesempatan yang setara bagi siapa pun untuk berkembang.
Menariknya, semangat perempuan tangguh juga dapat ditemukan dalam sejarah Tiongkok. Salah satu tokoh penting adalah Wu Zetian 武则天, satu-satunya kaisar perempuan resmi dalam sejarah Tiongkok. Ia dikenal memperluas sistem ujian negara sehingga rakyat berbakat memiliki kesempatan menjadi pejabat, tidak hanya kalangan bangsawan. Dari kisahnya, kita belajar bahwa kepemimpinan perempuan mampu membawa perubahan besar ketika diberi ruang dan kesempatan.
Selain itu, ada pula Huang Mulan 黄慕兰, sosok perempuan pemberani pada abad ke-20 yang dikenal cerdas, tangguh, dan memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan tokoh negaranya. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya hadir sebagai pendamping sejarah, tetapi juga sebagai pelaku utama perubahan.
Dalam budaya klasik Tiongkok, dikenal pula Empat Wanita Cantik (四大美女) yang melegenda, seperti Wang Zhaojun 王昭君 yang dikenang karena pengorbanannya demi perdamaian. Ia rela meninggalkan istana dan menikah ke wilayah perbatasan untuk mencegah peperangan. Kisah tersebut mengajarkan bahwa kecantikan sejati bukan hanya rupa, tetapi juga kebijaksanaan dan ketulusan demi kepentingan bersama. Tokoh lain yang terkenal antara lain Xi Shi 西施, Diao Chan 貂蝉, dan Yang Guifei 杨贵妃.
Jejak hubungan perempuan, budaya Tiongkok, dan Nusantara juga hadir dalam sosok Putri Ong Tien 王天妮 / 翁天娘 (berdasarkan berbagai versi penulisan), putri yang dikenal dalam sejarah Cirebon sebagai istri Sunan Gunung Jati. Kehadirannya menjadi simbol harmonisasi budaya Tionghoa dan Islam di tanah Jawa, yang jejaknya masih terlihat pada ornamen keramik di kawasan keraton dan situs sejarah Cirebon.
Dalam memandang tokoh maupun peristiwa sejarah, setiap kisah sering kali memiliki beragam sudut pandang sesuai zaman dan latar belakang penulisnya. Karena itu, penting bagi kita untuk menyikapinya secara bijak: mengambil nilai-nilai baik yang dapat diteladani dan meninggalkan hal-hal yang kurang sesuai. Dari berbagai cerita masa lalu, selalu ada pelajaran tentang keberanian, kecerdasan, keteguhan hati, pengorbanan, serta semangat memberi manfaat bagi banyak orang. Dengan cara pandang demikian, sejarah bukan hanya menjadi catatan masa lampau, tetapi juga sumber inspirasi bagi kehidupan masa kini.
Melalui peringatan Hari Kartini ini, Prodi S1 Pendidikan Bahasa Mandarin FBS Unesa ingin menegaskan bahwa perjuangan perempuan bersifat universal. Dari Kartini di Indonesia hingga tokoh-tokoh perempuan di Tiongkok, semuanya mengajarkan keberanian, kecerdasan, dan dedikasi untuk kemajuan bangsa.
Selamat Hari Kartini. Semoga semangat perempuan hebat terus menginspirasi generasi muda untuk belajar, berkarya, dan menerangi masa depan. Habis gelap terbitlah terang.