Saya Saja yang WNI, Anak Saya Jangan, WNA Saja? Bagaimana Jika Itu Terjadi di Tiongkok
Belakangan ini media sosial ramai ungkapan “biarkan saya saja yang WNI, anak saya jangan, WNA saja.” Sebuah pernyataan seorang ibu yang memicu diskusi luas tentang nasionalisme, kewarganegaraan, paspor, serta masa depan anak di era globalisasi. Perdebatan tentang WNI dan WNA bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga menyentuh aspek identitas, budaya, dan cara suatu bangsa memandang kewarganegaraan.
Namun, bagaimana jika pernyataan serupa terjadi di Tiongkok?
Kewarganegaraan: Indonesia dan Tiongkok Berbeda Sistem
Dalam hukum Indonesia, kewarganegaraan pada dasarnya menganut asas ius sanguinis (berdasarkan keturunan), dengan beberapa ketentuan tambahan. Anak dari orang tua WNI pada prinsipnya memperoleh kewarganegaraan Indonesia, meskipun lahir di luar negeri, dengan pengaturan tertentu terkait kewarganegaraan ganda terbatas pada usia anak.
Sementara itu, Republik Rakyat Tiongkok juga secara tegas menganut asas ius sanguinis. Berdasarkan Nationality Law of the People’s Republic of China, anak yang lahir dari orang tua berkewarganegaraan Tiongkok pada umumnya dianggap sebagai warga negara Tiongkok, kecuali dalam kondisi tertentu seperti orang tua telah menetap permanen di luar negeri dan anak otomatis memperoleh kewarganegaraan asing saat lahir.
Yang menarik, Tiongkok tidak mengakui kewarganegaraan ganda. Artinya, jika seseorang secara sukarela memperoleh kewarganegaraan asing, maka secara hukum ia dapat kehilangan kewarganegaraan Tiongkok.
Dalam kajian bahasa Mandarin, konsep kewarganegaraan tidak berdiri sendiri. Ada beberapa istilah penting yang sering kali tercampur dalam diskusi publik:
国籍 (guójí) — Kewarganegaraan
Status hukum seseorang sebagai anggota resmi suatu negara.
民族 (mínzú) — Etnis/Bangsa
Merujuk pada kelompok etnis atau suku bangsa. Di Tiongkok dikenal konsep 56 民族 (56 kelompok etnis resmi).
文化认同 (wénhuà rèntóng) — Identitas Budaya
Rasa keterikatan terhadap budaya tertentu, yang bisa saja berbeda dengan kewarganegaraan formal.
Seseorang bisa saja memiliki 国籍 tertentu, tetapi secara 文化认同 merasa dekat dengan budaya lain. Inilah kompleksitas identitas di era global.
Kosakata Kenegaraan dalam Bahasa Mandarin
Fenomena viral seperti ini sebenarnya bisa menjadi momentum edukatif dalam pembelajaran bahasa Mandarin, khususnya tema “Kenegaraan dan Identitas”. Berikut beberapa kosakata penting:
- 国籍 (guójí) — kewarganegaraan
- 公民 (gōngmín) — warga negara
- 身份 (shēnfèn) — identitas
- 身份证 (shēnfèn zhèng) — kartu identitas (KTP)
- 护照 (hùzhào) — paspor
- 驾驶证 (jiàshǐ zhèng) — SIM
- 国歌 (guógē) — lagu kebangsaan
- 国旗 (guóqí) — bendera negara
- 民族英雄 (mínzú yīngxióng) — pahlawan nasional
- 爱国主义 (àiguó zhǔyì) — nasionalisme/patriotisme
Melalui kosakata ini, mahasiswa tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga memahami sistem sosial dan politik suatu negara.