Kepekaan: Menyulam Perasaan dalam Kehidupan Sehari-hari (Merespon Kejadian Indonesia Akhir Ini)
Kepekaan yang dimiliki seseorang akan sangat berdampak pada bagaimana ia bertindak dan merespons keadaan di sekitarnya. Dalam budaya Tiongkok, kepekaan sering dikaitkan dengan konsep 感同身受 (gǎn tóng shēn shòu): merasakan seolah-olah mengalami sendiri. Kepekaan bukan hanya tentang melihat atau mendengar, tetapi juga tentang merasakan denyut yang samar, bahkan dalam kesunyian.
Peka bisa diartikan saat kita mencuri-dengar suara lirih sepasang mahasiswa yang sedang mencuri obrolan di ketenangan ruang baca perpustakaan, seperti bisikan daun bambu yang bergerak tertiup angin. Kepekaan adalah kemampuan menangkap yang tak terucap, memahami tanpa harus diberitahu.
Ketika musim kemarau, panas terasa menyengat, atau saat tetes pertama air hujan jatuh di hitam aspal bergelombang, kepekaan dapat diwujudkan dalam tindakan nyata. Seorang pengemudi mobil, duduk nyaman dengan pendingin udara, terlindungi dari panas dan hujan, dapat menunjukkan kepekaannya dengan memberi jalan bagi pengendara motor. Sebaliknya pengendara motor, juga harap peka dengan tidak ugal-ugalan, karena sudah diberikan ruang. Walau panas helmet sudah tertembus, atau area depan pakaian sudah sedikit kuyup terkena air.
Dalam peribahasa Mandarin ada ungkapan, 将心比心 (jiāng xīn bǐ xīn): menempatkan hati kita di posisi orang lain. Dengan itu, berbagi ruang dan waktu menjadi hal yang indah dan bermakna.
Kepekaan dalam Kepemimpinan
Kepekaan sejatinya tidak mengenal status, namun bagi seorang pemimpin, ia adalah hal yang mutlak. Mencius (孟子, Mèngzǐ) pernah berkata, “恻隐之心,人皆有之” (cèyǐn zhī xīn, rén jiē yǒu zhī): “Hati yang penuh belas kasih, setiap manusia memilikinya.”
Seorang pemimpin rakyat harus memiliki kepekaan yang jauh melebihi orang biasa. Jika seekor lalat dapat menghindar dari pukulan dalam se-per-sekian detik, maka pemimpin seharusnya mampu membaca tanda-tanda bahkan sebelum masalah muncul ke permukaan.
Romantika Kepekaan dalam Kisah Sehari-hari
Bayangkan seorang sopir yang tanpa sengaja merusak spion mobil karena menabrak pembatas saat hendak mengeluarkan kendaraan. Ia tentu merasa bersalah dan wajib meminta maaf. Kepekaan membuatnya sadar bahwa ini adalah risiko pekerjaan dan bagian dari tanggung jawab.
Namun, di balik itu ia juga memikul beban lain, menghidupi keluarga, sementara gajinya mungkin sudah habis sebelum bulan berakhir.
Sang pemilik mobil, atau bos, tentu berhak merasa kecewa. Tetapi di sinilah 将心比心 diuji. Dengan hati yang peka, sang bos melihat bahwa dirinya sudah berlimpah harta, sementara sang sopir hidup dalam keterbatasan. Kepekaan membimbingnya untuk memaafkan, menjadikan kejadian ini sebagai pengingat, bukan hanya teguran. Dalam budaya Tiongkok, ini sejalan dengan prinsip 仁 (rén): kemanusiaan dan kasih sayang yang menjadi dasar hubungan antar manusia.
Kepekaan sebagai Nilai Universal
Seorang filsuf bernama Jalaluddin Rumi pernah berkata bahwa musik yang paling haram bukanlah lantunan nada, melainkan suara sendok dan garpu saat makan, sementara tetanggamu hidup dalam kelaparan.
Dalam pemikiran Tiongkok, ini mirip dengan peringatan dari Laozi (老子, Lǎozǐ): “上善若水” (shàng shàn ruò shuǐ): “Kebaikan yang tertinggi seperti air,” yang mengalir lembut, memberi kehidupan, dan tak pernah menuntut balasan. Kepekaan adalah seperti air: hadir tanpa pamrih, tetapi menghidupkan.
Kembali Menoleh
Mari kita kembali melihat ke belakang, menelusuri langkah-langkah kita. Adakah bisikan yang tak kita dengar? Adakah hati yang kita abaikan? Dalam hiruk-pikuk dunia yang serba cepat, kepekaan adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan manusia, budaya dengan budaya, bahkan bangsa dengan bangsa.
Beririsan dengan semiotika, kepekaan mungkin tak selalu terlihat, namun ia terasa oleh mereka yang mau berhenti sejenak untuk mendengar.